Patutkah uNtuk dicompare?
24 September, 2008
Beberapa hari ini ada baliho terpampang besar sekali di perempatan jalan daerah rewwin daerah wadung asri, jalan menuju wedoro yang notabene juga jalan menuju kantorku. Udah sejak 2 minggu yang lalu terpampang…dan tulisan itu selalu saja menggangguku, mengganggu atau malah sebenarnya merangsang otakku untuk berpikir, untuk mencerna kalimat yang terpampang besar dibaliho itu. Tulisan yang ditulis dan terpampang besar² itu berbunyi “NARKOBA LEBIH JAHAT DARI TERORIS” dan baliho dengan ukuran besar dan juga ukuran tulisan yang juga besar itu dipersembahkan oleh ketua BNK Sidoarjo. kok aku ngerasa tulisan itu berasa lebay ya kalo tidak mau disebut ga berkorelasi ataupun ga sebanding blassst!!!
YAh…aku tau Narkoba itu berbahaya, dapat membuat kecanduan, kehilangan harta (ataupun bisa juga nambah hartanya kalo dia
pengedar bodoh yang mengambil keuntungan u/diri sendiri untuk menghancurkan suatu bangsa atau malah bangsanya sendiri!), masuk penjara dan yang terparah…Narkoba dapat membuat nyawa melayang dengan sia-sia. Tapi apa bisa narkoba disebut lebih JAHAT dari teroris?? Apalagi jika teroris itu yang diidentikan dengan Imam Samudra cs! semakin tidak setuju dan tidak sukalah aku dengan tulisan itu.
Bagiku….Hidup adalah sebuah pilihan.
Memakai narkoba juga adalah merupakan pilihan. ketika kamu terjerumus dengan narkoba dan kamu terus berkecimpung di dalamnya, maka itu adalah pilihan mu. Ketika NArkoba bekerja, ketika
seseorang memilih untuk memakai narkoba padahal ia tahu bahwa barang itu berbahaya dan dapat menghancurkan hidupnya atau menghancurkan hidup orang lain, tapi setiap orang dapat menentukan pilihannya untuk mengatakan SAY NO TO DRUGS atau ia tetap memilih untuk menjadi orang bodoh nan bebal utuk tetap memakai Narkoba apapun alasannya. Ketika ada yang merasa “terpaksa” atau “dipaksa” untuk memakai Narkoba maka ia pun masih punya pilihan untuk BERHENTI ataupun masuk rehabilitasi untuk meminta pertolongan agar ia dapat berhenti dan menjadi terbebas dari narkoba.
Tapi….bila dibilang lebih jahat dari Teroris…apa iya?
KEtika Teroris bekerja….ia merugikan hidup orang lain, menyakiti, membunuh apakah ia memberikan pilihan? ketika teroris bekerja..ia tidak memberikan pilihan pada orang lain. apakah ia yang berwenang untuk menentukan hidup seseorang? Apakah ia Tuhan atau apakah ia
malah setan pencabut nyawa orang? Teroris tak memberikan pilihan kepada seseorang. Ia hanya memakai prespektifnya, fanatik sempitnya, idealisme sempitnya untuk “mengatakan-akan-menghukum-orang-yang-berdosa” apakah cukup pantas untuk menghakimi seseorang yang mungkin para teroris itupun tak mengenal satu persatu korbannya. TEroris………….tak memberikan pilihan kepada seseorang. Ia hanya memberikan pilihan untuk membuat orang lain ketakutan, cacat, mati, kehilangan nyawanya tanpa sempat mengucapkan pesan apapun untuk orang yang dikasihinya, membuat orang lain kehilang sanak saudaranya, kerabatnya, orang tuanya, anaknya, kekasih hatinya, sahabatnya, teman ataupun orang sambil lalu yang hanya kebetulan melewati jalan. Dari yang kecil sampai yang besar dari yang muda sampai yang tua tak dapat memilih dalam detik² terakhir itu. Hidupnya dihancurkan orang lain tanpa ia sempat memilih apakah ia mau atau tidak dalam kejadian yang dirancang teroris.
Maka……..sepadankah bila Narkoba disebut LEBIH JAHAT dari Teroris??
Mungkin maksudnya hanya himbauan untuk menjauhi narkoba karena narkoba itu dapat merusak generasi bangsa, dan membahayakan dan menghilangkan nyawa diri sendiri ataupun nyawa orang lain tapi mbok ya yang rada sesuai dan masuk akal..Teroris itu ga dibawah narkoba tingkat bahayanya, podho ae dan lebih menyebalkan dan membahayakan malah.
That’s he the oNe?
22 Agustus, 2008
Hmmmm…banyak yang kawin (benernya yang betul bukannya kawin yak??!
secara yang ada adalah lembaga perkawinan) nikah. Jadi pengen siy…bukan karena ada ato ga ada yang mendampingi tapi masalah siap dan ga siap. Aku seperti berada diantara gerbang “pengen ga pengen” pengen nikah tapi takut. Kalo di dampingi seseorang yang kita sayang selama sisa umur kita…siapa sich yang ga pengen??!! Tapi … sampai sekarang perasaan takut masih tetap berakar kuat di hatiku.
Merasa sayang bukan berarti dia orang yang tepat untuk kita bukan?
Merasa butuh bukan berarti dia yang benar² kita butuhkan kan?
Merasa nyaman bukan berarti kita akan nyaman selamanya kan?
That’s he the one?
Ketika kita bertemu seseorang…benarkah orang ini yang tepat? benarkah kita bisa bersama dia selamanya?
Terkadang ketika kita memesan makanan..rasa yang kita bayangkan
kelezatannya belum tentu tercipta di masakan itu atau ketika kita memesan minuman terkadang kesegaran yang kita bayangkan dan kenikmatan yang kita harapkan tidak sama dengan rasa yang disajikan. simplenya…Es teh tidak semanis atau kurang pahit dari yang kita bayangkan. Menu yang kita pesan dan kita harapkan menjadi tidak sama dengan yang dihidangkan. Rasanya pun menjadi lain.
Terdengar Egois huh?
Yeah…mungkin..
Tapi sebenarnya bukan begitu dan tidak bermaksud egois. Hanya takut kalo “rasa” yang diharapkan menjadi tidak sesuai. Ketika makanan atau minuman yang kita pesan rasanya tidak sesuai dengan yang kita harapkan…kita dapat meninggalkannya, tidak menghabiskannya atau mungkin…kita bisa memesan yang lain.
Tapi bagiku masih tetap…perkawinan adalah komitmen sakral yang hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup. Aku hanya takut memesan “rasa” yang salah (harus banyak berdoa nich…). Aku hanya ingin memastikan…setidak meyakinkan “rasa” yang terpesan…aku ingin merasa yakin bahwa aku mampu menghabisakan “menu” yang terhidangkan. Terlalu manis, terlalu pahit, terlalu asin, terlalu manis (lagi), asam atau bahkan hambar aku ingin merasa yakin kalo aku mampu bertahan dan menghabiskan menu yang terhidangkan dengan “rasa” apapun sampai maut memisahkan.
Tapi bertahan tidak bisa bukan bila hanya satu orang?
Kucing dalam Karung
21 Agustus, 2008
Awalnya pingin aja dikenalin. Yah…sedikit (agak banyak ding) berharap bahwa perkenalan bisa menjadi persahabatan atau mungkin perjodohan (wakakkakakkkzz). Namanya juga pingin nambah kenalan soalnya kenalan ga bertambah cukup drastis sejak kerja. Cuma duduk di kantor, telpon sampai dirumah pun udah males keluar dan berlanjut dengan tidur (benar² membosankan) gimana bisa dapat tambahan kenalan??!! gimana bisa dapet pacar yak!! Tapi akhirnya kenalan deh!! bukan kenalan tatap muka dan berjabat tangan lho yaa…cuma sekedar berkenalan lewat sms. Ternyata asyik, ternyata cukup nyaman meskipun tak pernah saling tatap. Semakin lama semakin dekat. Tapi bak beli kucing dalam karung euforia perasaannya sangat unik (kalo tidak mau dibilang aneh). Ada perasaan berharap yang terbaik, yah….ga muna juga kalo pasti berharap dan pengen banget sesuai dengan type dalam otak atau paling tidak mendekati lah.. paling tidak secara fisik “iso disuguhno” (“,) tapi meskipun berharap yang terbaik ada juga perasaan yang maksa untuk tetap menginjak bumi alias ga boleh banyak berharap. Toh kenyamanan yang berhasil timbul dan dibangun bukan dari fisik itu.
Perasaan seperti ini tentu bukan cuma aku yang ngerasain, dia pun pasti
begitu. Karena memikirkan itu…jadi semakin terbebanlah otakku. Ngerasa takut gimana kalo nanti (seandainya berhasil) ketemu. Masih nyamankah kami? takut rasanya untuk terbang terlalu tinggi. Tapi ada perkataan film yang aku suka, yang kurang lebih kalimatnya begini:”kalo ga berani terbang tinggi ga bisa lihat pemandangan bagus dong” film apa ya itu?? aah…yaa…aku ingat “Andai dia Tahu”(Film yang aku lupa gimana jalan ceritanya tapi kalimat itu melekat kuat….habis Marcell mainnya ga banget deh rasanya). Jadi lagi kebingungan antara mabuk kepayang sama kucing dalam karung, pengen terbang tinggi tapi takut jatuh kalo tersadar dan juga ingin menginjak bumi dengan mulus.
Ketika sang kucing muncul aku hanya terdiam. Mungkin aku berharap yang lebih baik. Tapi sudahkah aku cukup baik untuk mendapatkan yang sangat baik? karena kita tidak pernah tau apa yang terbaik untuk diri kita sebelum yang terbaik benar² datang dalam hidup kita. Bukankah aku juga memiliki banyak sekali kekurangan yang (nampaknya) dia mau dan mampu menerima semua kekuaranganku itu. Tapi dengan berjalannya waktu aku pun tahu….nampaknya meskipun kita berdebar² menunggu keluarnya sang kucing dalam karung, meskipun ketika sang kucing sudah keluar dalam karung dan kucing itu tidak sehebat yang kita bayangkan…kita akan tetap menyayanginya. Apalagi itu bukan kucing dan dia sangat menyayangiku. Maka…Lope u pus… meow… (“,)

