Aku penggemar film Indonesia kecuali horornya! tapi masih bisa disebut penggemarkan? meskipun tidak suka horornya. Bukan yang ga suka banget trus ga mau nonton siy…cuma males aja bisa dibilang…mengutip kata teman (Deni’00) “film Indonesia lebih berasa menyeramkan disamping ada berbagai jenis seperti kuntil anak, sundel bolong, wewe gombel, gendruwo, dll kalo kita serem dan merasa takut itu lebih gampang didatangi karena 1 negara dari pada film horor luar negeri yang harus menyebrangi lautan atau naik pesawat dulu untuk nakutin kita” wakakkakakkkzz… konyol siy…tapi bener juga kan??!! lebih cepet dan lebih deket kalo mau ndatangi kita hehehehe….

Aku penggemar film Indonesia karena disamping film Indonesia udah semakin bagus (yang bagus) sejak “Petualangan Sherina”, film Indonesia yang jujur mencitrakan budaya, kehidupan, kegembiraan ataupun carut marutnya bangsa kita tercinta ini. Meskipun tidak selalu nonton di bioskop paling tidak aku pasti menonton VCD nya. Memang ga semua film indonesia aku tonton di bioskop…hanya beberapa lah…seperti Petualangan Sherina, Ada Apa Dengan Cinta, Jelangkung I & II, Arisan, Soulmate belahan Jiwa, Eiffel Im in love, Apa Artinya Cinta, Naga Bonar Jadi 2, LOVE, Ayat² Cinta, dan yang terakhir aku tonton di bioskop adalah Laskar Pelangi yang lagi booming (dan emang bagus banget!!). Dan film² yang lain seperti brownies, Kalla, Andai ia tahu, Denias senandung negeri di awan, pesan dari surga, berbagi suami, quickie express, perempuan punya cerita, 9 Naga, Mengejar Matahari, Radit dan Jani, the photograph, kangen, selamanya.., 30 hari mencari cinta, banyu biru dan masih banyak lagi aku tonton di VCD. Aku rasa film² Indonesia sudah cukup banyak yang bagus. Memang tidak sekeren film kolosal kelas hollywood seperti TLOTR, TROY, Harry Poter, film² Superhero atau film drama Love actually yang aku tonton berulang kali. Tapi….film Indonesia juga bagaus…lebih membumi, lebih mengIndonesia. Dan…………………..kalo bukan kita yang menghargai hasil karya anak bangsa………..siapa yang akan memberikan penghargaan itu??

 

Sebenarnya aku nulis ini siy…mau mengomentarin, ga tau siapa yang musti aku komentarin…tapi yang pasti aku agak jengkel dan risih gara² liburan kemaren banyak sekali film Indonesia yang diputer di TV!!!! dan yang paling parah…Ayat² Cinta yang baru beberapa bulan tayang dibioskop (DO-nya Titi Kamal juga ding) udah nongol di TV!!!!!!!!!!!!!!!! LOVE yang bln Feb udah nongol itu brarti baru 8bln udah nongol di TV…Ayat² cinta baru banget kan? baru brp bulan yak?!

Mungkin memang tujuannya menghibur di masa liburan, atau mungkin memberikan kesempatan orang yang kurang mampu untuk menonton bioskop bisa menikmati film bagus Indonesia sehingga di munculkan di TV. TApi………………….. katanya ingin memajukan perfilm-an Indonesia tapi kok blom juga 1/2 tahun tayang di bioskop udah muncul di TV…lama² orang² juga males kali lihat bioskop!! sebagus apapun film Indonesia di bioskop lama kelamaan (saya rasa sekarang pun sudah banyak yang berfikir begini) juga nongol di TV paling juga ga sampe 6bln udah tayang di TV…buat apa nonton bioskop? mending nonton film hollywood deh di bioskop. karena memang butuh sounds yang bagus dan gambar yang bagus dan gedhe kalo film sekelas hollywood apalagi kalo action dan kolosal. Lha wong film drama aja meskipun hollywood kadang males nonton dibioskop mending nunggu VCD nya keluar apalagi film Indonesia!! mending nunggu VCD ato malah mending nungguin di TV, ga pelu ngeluarin duit.

 

Kapitalis tuh parah yaaa…. katanya mau memajukan perfilan Indonesia yang katanya akan bangkit dari mati suri. Lha gimana bisa bangkit wong baru mau menegakkan punggung aja udah nongol di TV…ya tidur lagi abis gini!!!

 

Boleh² aja dimunculin di TV…kan biar orang yang ga bisa nonton bioskop juga bisa mengagumi dan menikmati karya sineas² bangsa. Tapi….mbok ya nunggu 1 atau 2 tahun baru dimunculin di TV!! kaya AADC dulu tuh…….. setelah lama baru muncul VCD nya…terus setelah itu baru nongol di TV. Mencari keuntungannya lho kok parah men!!

Patutkah uNtuk dicompare?

24 September, 2008

Beberapa hari ini ada baliho terpampang besar sekali di perempatan jalan daerah rewwin daerah wadung asri, jalan menuju wedoro yang notabene juga jalan menuju kantorku. Udah sejak 2 minggu yang lalu terpampang…dan tulisan itu selalu saja menggangguku, mengganggu atau malah sebenarnya merangsang otakku untuk berpikir, untuk mencerna kalimat yang terpampang besar dibaliho itu. Tulisan yang ditulis dan terpampang besar² itu berbunyi “NARKOBA LEBIH JAHAT DARI TERORIS” dan baliho dengan ukuran besar dan juga ukuran tulisan yang juga besar itu dipersembahkan oleh ketua BNK Sidoarjo. kok aku ngerasa tulisan itu berasa lebay ya kalo tidak mau disebut ga berkorelasi ataupun ga sebanding blassst!!!

YAh…aku tau Narkoba itu berbahaya, dapat membuat kecanduan, kehilangan harta (ataupun bisa juga nambah hartanya kalo dia pengedar bodoh yang mengambil keuntungan u/diri sendiri untuk menghancurkan suatu bangsa atau malah bangsanya sendiri!), masuk penjara dan yang terparah…Narkoba dapat membuat nyawa melayang dengan sia-sia. Tapi apa bisa narkoba disebut lebih JAHAT dari teroris?? Apalagi jika teroris itu yang diidentikan dengan Imam Samudra cs! semakin tidak setuju dan tidak sukalah aku dengan tulisan itu.

Bagiku….Hidup adalah sebuah pilihan.

Memakai narkoba juga adalah merupakan pilihan. ketika kamu terjerumus dengan narkoba dan kamu terus berkecimpung di dalamnya, maka itu adalah pilihan mu. Ketika NArkoba bekerja, ketika seseorang memilih untuk memakai narkoba padahal ia tahu bahwa barang itu berbahaya dan dapat menghancurkan hidupnya atau menghancurkan hidup orang lain, tapi setiap orang dapat menentukan pilihannya untuk mengatakan SAY NO TO DRUGS atau ia tetap memilih untuk menjadi orang bodoh nan bebal utuk tetap memakai Narkoba apapun alasannya. Ketika ada yang merasa “terpaksa” atau “dipaksa” untuk memakai Narkoba maka ia  pun masih punya pilihan untuk BERHENTI ataupun masuk rehabilitasi untuk meminta pertolongan agar ia dapat berhenti dan menjadi terbebas dari narkoba.

Tapi….bila dibilang lebih jahat dari Teroris…apa iya?

KEtika Teroris bekerja….ia merugikan hidup orang lain, menyakiti, membunuh apakah ia memberikan pilihan? ketika teroris bekerja..ia tidak memberikan pilihan pada orang lain. apakah ia yang berwenang untuk menentukan hidup seseorang? Apakah ia Tuhan atau apakah ia malah setan pencabut nyawa orang? Teroris tak memberikan pilihan kepada seseorang. Ia hanya memakai prespektifnya, fanatik sempitnya, idealisme sempitnya untuk “mengatakan-akan-menghukum-orang-yang-berdosa” apakah cukup pantas untuk menghakimi seseorang yang mungkin para teroris itupun tak mengenal satu persatu korbannya. TEroris………….tak memberikan pilihan kepada seseorang. Ia hanya memberikan pilihan untuk membuat orang lain ketakutan, cacat, mati, kehilangan nyawanya tanpa sempat mengucapkan pesan apapun untuk orang yang dikasihinya, membuat orang lain kehilang sanak saudaranya, kerabatnya, orang tuanya, anaknya, kekasih hatinya, sahabatnya, teman ataupun orang sambil lalu yang hanya kebetulan melewati jalan. Dari yang kecil sampai yang besar dari yang muda sampai yang tua tak dapat memilih dalam detik² terakhir itu. Hidupnya dihancurkan orang lain tanpa ia sempat memilih apakah ia mau atau tidak dalam kejadian yang dirancang teroris.

 

Maka……..sepadankah bila Narkoba disebut LEBIH JAHAT dari Teroris??

Mungkin maksudnya hanya himbauan untuk menjauhi narkoba karena narkoba itu dapat merusak generasi bangsa, dan membahayakan dan menghilangkan nyawa diri sendiri ataupun nyawa orang lain tapi mbok ya yang rada sesuai dan masuk akal..Teroris itu ga dibawah narkoba tingkat bahayanya, podho ae dan lebih menyebalkan dan membahayakan malah.

That’s he the oNe?

22 Agustus, 2008

Hmmmm…banyak yang kawin (benernya yang betul bukannya kawin yak??! secara yang ada adalah lembaga perkawinan) nikah. Jadi pengen siy…bukan karena ada ato ga ada yang mendampingi tapi masalah siap dan ga siap. Aku seperti berada diantara gerbang “pengen ga pengen” pengen nikah tapi takut. Kalo di dampingi seseorang yang kita sayang selama sisa umur kita…siapa sich yang ga pengen??!! Tapi … sampai sekarang perasaan takut masih tetap berakar kuat di hatiku.

Merasa sayang bukan berarti dia orang yang tepat untuk kita bukan?

Merasa butuh bukan berarti dia yang benar² kita butuhkan kan?

Merasa nyaman bukan berarti kita akan nyaman selamanya kan?

 

That’s he the one?

Ketika kita bertemu seseorang…benarkah orang ini yang tepat? benarkah kita bisa bersama dia selamanya?

Terkadang ketika kita memesan makanan..rasa yang kita bayangkan kelezatannya belum tentu tercipta di masakan itu atau ketika kita memesan minuman terkadang kesegaran yang kita bayangkan dan kenikmatan yang kita harapkan tidak sama dengan rasa yang disajikan. simplenya…Es teh tidak semanis atau kurang pahit dari yang kita bayangkan. Menu yang kita pesan dan kita harapkan menjadi tidak sama dengan yang dihidangkan. Rasanya pun menjadi lain.

 

 

Terdengar Egois huh?

Yeah…mungkin..

 

Tapi sebenarnya bukan begitu dan tidak bermaksud egois. Hanya takut kalo “rasa” yang diharapkan menjadi tidak sesuai. Ketika makanan atau minuman yang kita pesan rasanya tidak sesuai dengan yang kita harapkan…kita dapat meninggalkannya, tidak menghabiskannya atau mungkin…kita bisa memesan yang lain.

 

Tapi bagiku masih tetap…perkawinan adalah komitmen sakral yang hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup. Aku hanya takut memesan “rasa” yang salah (harus banyak berdoa nich…). Aku hanya ingin memastikan…setidak meyakinkan “rasa” yang terpesan…aku ingin merasa yakin bahwa aku mampu menghabisakan “menu” yang terhidangkan. Terlalu manis, terlalu pahit, terlalu asin, terlalu manis (lagi), asam atau bahkan hambar aku ingin merasa yakin kalo aku mampu bertahan dan menghabiskan menu yang terhidangkan dengan “rasa” apapun sampai maut memisahkan.

 

Tapi bertahan tidak bisa bukan bila hanya satu orang?

Kucing dalam Karung

21 Agustus, 2008

Awalnya pingin aja dikenalin. Yah…sedikit (agak banyak ding) berharap bahwa perkenalan bisa menjadi persahabatan atau mungkin perjodohan (wakakkakakkkzz). Namanya juga pingin nambah kenalan soalnya kenalan ga bertambah cukup drastis sejak kerja. Cuma duduk di kantor, telpon sampai dirumah pun udah males keluar dan berlanjut dengan tidur (benar² membosankan) gimana bisa dapat tambahan kenalan??!! gimana bisa dapet pacar yak!! Tapi akhirnya kenalan deh!! bukan kenalan tatap muka dan berjabat tangan lho yaa…cuma sekedar berkenalan lewat sms. Ternyata asyik, ternyata cukup nyaman meskipun tak pernah saling tatap. Semakin lama semakin dekat. Tapi bak beli kucing dalam karung euforia perasaannya sangat unik (kalo tidak mau dibilang aneh). Ada perasaan berharap yang terbaik, yah….ga muna juga kalo pasti berharap dan pengen banget sesuai dengan type dalam otak atau paling tidak mendekati lah.. paling tidak secara fisik “iso disuguhno” (“,) tapi meskipun berharap yang terbaik ada juga perasaan yang maksa untuk tetap menginjak bumi alias ga boleh banyak berharap. Toh kenyamanan yang berhasil timbul dan dibangun bukan dari fisik itu.

Perasaan seperti ini tentu bukan cuma aku yang ngerasain, dia pun pasti begitu. Karena memikirkan itu…jadi semakin terbebanlah otakku. Ngerasa takut gimana kalo nanti (seandainya berhasil) ketemu. Masih nyamankah kami? takut rasanya untuk terbang terlalu tinggi. Tapi ada perkataan film yang aku suka, yang kurang lebih kalimatnya begini:”kalo ga berani terbang tinggi ga bisa lihat pemandangan bagus dong” film apa ya itu?? aah…yaa…aku ingat “Andai dia Tahu”(Film yang aku lupa gimana jalan ceritanya tapi kalimat itu melekat kuat….habis Marcell mainnya ga banget deh rasanya). Jadi lagi kebingungan antara mabuk kepayang sama kucing dalam karung, pengen terbang tinggi tapi takut jatuh kalo tersadar dan juga ingin menginjak bumi dengan mulus.

 

Ketika sang kucing muncul aku hanya terdiam. Mungkin aku berharap yang lebih baik. Tapi sudahkah aku cukup baik untuk mendapatkan yang sangat baik?  karena kita tidak pernah tau apa yang terbaik untuk diri kita sebelum yang terbaik benar² datang dalam hidup kita. Bukankah aku juga memiliki banyak sekali kekurangan yang (nampaknya) dia mau dan mampu menerima semua kekuaranganku itu. Tapi dengan berjalannya waktu aku pun tahu….nampaknya meskipun kita berdebar² menunggu keluarnya sang kucing dalam karung, meskipun ketika sang kucing sudah keluar dalam karung dan kucing itu tidak sehebat yang kita bayangkan…kita akan tetap menyayanginya. Apalagi itu bukan kucing dan dia sangat menyayangiku. Maka…Lope u pus… meow… (“,)

 

Saya bukan Perokok

19 Agustus, 2008

Saya bukan perokok, saya juga benci asap rokok, baunya pun saya juga ga suka. Tapi begitu mendengar (akan) ada fatwa dari MUI bahwa rokok akan diharamkan, kok saya jadi berteriak keras “TIDAK SETUJU!!!”.

mEMaNg….rokok TIDAK BAIK untuk KEseHAtan, di bungkus dan iklannya pun selalu ada kalimat “merokok dapat menyebabkan impotensi, jantung…bla…bla..bla” dan saya rasa itu cukup. Karena toh hidup itu adalah pilihan…tau resiko merokok kalo masih merokok dan kemudian jatuh sakit yaaa…itu harga yang harus dibayar. Cuma…terkadang jadi kasihan aja sama perokok pasif (termasuk saya hikz…) karena ga bisa memilih. Kesehatan perokok pasif bisa terganggu dan lebih berbahaya mengancam kesehatan dibandingkan perokok aktif (maka kata seorang temen: “ya ngerokok aja kalo gitu!” dasar!!!). Perokok pasif harus bisa menerima asap dan bau yang dihembuskan…padahal itu bukan pilihannya dan mungkin bisa sakit juga karena hal yang bukan pilihannya itu…hikz…

 

Tapi…sudahlah…bukan tentang kesehatan perokok pasif dan perokok aktif yang ingin saya bicarakan.

 Tapi tentang (akan) adanya fatwa tersebut, Fatwa adanya pengharaman rokok. Melihat di TV katanya dibuatnya fatwa itu karena semakin banyaknya selebrities (dan orang non selebritis juga saya rasa) yang tertangkap tangan memakai narkoba, lalu kemudian muncul suatu korelasi (yang dibuat seolah pas saya rasa) bahwa orang yang merokok pasti memakai narkoba dan juga kebalikannya orang yang memakai narkoba pasti merokok. Hmmm….kok rasanya korelasi yang (terlalu) memaksakan yak?!

 

Dan…kenapa haram dan halal yang menentukan manusia ya? setahu saya dari dulu dari banyak teman bahwa merokok itu hukumnya makruh yang artinya (kalo tidak salah; mohon maap kalo saya salah) dilakukan tidak apa², tidak dilakukan lebih baik karena baik untuk kesehatan bila tidak melakukannya.  Lalu kenapa mau dibuat menjadi haram?

Kalo saya siy pastinya akan bahagia sekali kalo tidak ada yang merokok dan tidak ada asap rokok di sekitar saya. Dan tentu itu akan lebih baik untuk dunia kita ini, lebih baik untuk lingkungan kita karena dengan adanya (calon) fatwa tersebut maka kita juga bisa melaksanakan satu langkah menuju “save the world from global warming” tapi……………..tidak kah dipikirkan dampak yang lainnya?

Kalau rokok (akan) diharamkan…meskipun akan tetap ada yang merokok karena tidak menganggap haram.. dan tidak ikut serta dalam haram dan halal yang dibuat manusia sendiri. Akan tetapi lama kelamaan dengan berjalannya waktu peminat rokok lama-kelamaan akan berkurang..dan kita tau bahwa ada 2 perusahaan rokok yang sangat besar, beberapa yang sedang dan  (mungkin) banyak yang kecil². Dipikirkan kah dalam pembuatan fatwa itu tentang nasib tenaga kerja yang bekerja di pabrik rokok tersebut? kalau lama kelamaan peminat rokok semakin berkurang karena efek (calon) fatwa, maka…bisa dimungkin kan akan banyak sekali yang akan kehilangan mata pencaharian mereka. bisa dimungkinkan hal tersebut bisa mematikan sandang-pangan bayak orang. Bayangkan saja…kota Kediri saja pemasukan paling banyak dan penyerapan tenaga kerja paling banyak adalah dari rokok!!!adakah tempat lain u/menampung tenaga kerja sedemikian banyak? Dipikirkan kah? atau memang tidak dipikirkan karena akan sangat sulit sekali ‘mematikan’ kebiasaan merokok?

 

Karena menurut saya pribadi terlalu memaksakan bila membuat korelasi bahwa “perokok pasti pemakai narkoba” dan juga sebaliknya “pemakai narkoba pasti perokok”. Dan merokok bagi saya masih tetap pilihan bebas individu (meskipun saya lebih senang kalo banyak yang tidak merokok atau paling tidak…TIDAK MEROKOK DI DEKAT SAYA)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.